Sejarah Sekolah di Indonesia

by | Aug 18, 2021 | 0 comments

kreasa.id – Hampir semua anak di seluruh penjuru dunia wajib bersekolah. Walaupun pandemi seperti saat ini, semua anak-anak tetap menjalankan kegiatan belajarnya secara daring, sekolah tidak boleh ditinggalkan. Dengan bersekolah diharapkan anak-anak Indonesia akan siap menghadapi tantangan dunia di masa mendatang.

Tahukah teman Kreasa tentang perjalanan sejarah didirikannya sekolah pada masa lalu? Siapakah tokoh penting yang membawa perubahan pada sistem pendidikan di Indonesia? Atau sudahkah kalian mengenal Bapak Pendidikan Indonesia?

Penasaran jawabannya? Yuk disimak penjelasannya.

Menurut Wonderopolis, ternyata sekolah bukanlah penemuan baru. Sekolah sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Pada awal peradaban, pendidikan seperti halnya keterampilan, tradisi dan sebagainya sudah diajarkan oleh keluarga untuk bertahan hidup. Ketika populasi kian bertambah, agar efisien maka pendidikan mulai diajarkan secara berkelompok. Inilah adalah awal muasal konsep sekolah yang masih berfokus pada pengajaran nilai-nilai relijius.

Dari Science Trends, konsep sekolah formal pertama kali ditemukan pada zaman Romawi dan Mesir Kuno pada awal tahun 500M. Pada saat itu siswa mulai mendapatkan pendidikan formal seperti ilmu matematika. Kemudian mengikuti perkembangan zaman, Horace Mann, Sekretaris Dewan Pendidikan Massachusetts Amerika Serikat mereformasi sistem sekolah menjadi lebih universal atau modern.

Mann memperkenalkan sistem pembelajaran sesuai usia anak dan mulai menggunakan tenaga pengajar yakni guru profesional. Sistem pendidikan inilah yang kemudian diadopsi oleh seluruh negara hingga saat ini. Dan oleh sebab itu pula Horace Mann dikenal sebagai Bapak Pendidikan Modern.

Di Indonesia sendiri, perjalanan didirikannya sekolah umum dan perubahan sistem pendidikan sangatlah panjang. Sekolah pertama yang didirikan di Indonesia adalah sekolah KatolikPportugis pada tahun 1536 yang didirikan oleh penguasa Portugis Antonio Galvao di Ambon. Sekolah bagi anak-anak pribumi ini mengajari anak-anak keterampilan membaca, menulis, dan menghafal agama Katolik Roma.

Seiring dengan perubahan penguasa, karena agama Protestan banyak dianut oleh orang Belanda, pada masa kekuasaannya, VOC banyak membuka sekolah-sekolah berbasis agama protestan yang tersebar di wilayah Indonesia, diantaranya :

Tahun 1607 : Sekolah Bumiputra di Ambon

Tahun 1620 : Sekolah Guru Agama Protestan di Ambon 

Tahun 1632 : Sekolah Bumiputra di Betawi (Jakarta)

Kemudian pada tanggal 16 Januari 1845, Menteri Belanda J.C. Baud memerintahkan untuk membangun Sekolah Dasar Non-Kristen. Sehingga pada abad ke-19 banyak sekolah-sekolah Non-Kristen bermunculan. Sekolah untuk anak-anak pribumi ini mengajarkan membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, dan pemetaan.

Sekolah Non Kristen tersebut antara lain :

Tahun 1852 : berjumlah 20 SD Bumiputra yang tersebar di pulau Jawa

Tahun 1900 : berjumlah 533 SD Bumiputra yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia

Tidak hanya sekolah umum untuk warga pribumi, VOC juga mendirikan HIS (Hollandsch Inlandsch School). Sekolah ini didirikan tahun 1914 dan setara dengan sistem pendidikan ELS (Europesche Lagere School). Bedanya adalah sekolah tersebut diperuntukan bagi anak-anak golongan atas (elite) atau orang-orang kaya pada masa kolonial Belanda.

Para penggerak bangsa, tentu tidak tinggal diam. Ki Hadjar Dewantara dan teman-teman di paguyuban Sloso Kliwon mengagas dan mendirikan ‘Nationaal Onderwijs Institut Taman Siswa’ atau yang dikenal dengan nama Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Dikenal sebagai Taman Siswa, sekolah nasional pertama ini bertujuan membantu siswa menghadapi tuntutan kehidupan modern tanpa meninggalkan kebudayaan asli Indonesia.

Karena fokus pada membangun semangat nasionalisme para siswa sebagai generasi muda, Taman Siswa cukup ditakuti oleh pemerintahan Belanda. Prinsip dasar Taman Siswa juga menjadi pedoman guru yang kini dikenal sebagai Patrap Triloka yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun karsa/kemauan/semangat) dan Tut Wuri Handayani (dari belakang mendukung).

Sistem pendidikan Taman Siswa menyebar ke seluruh penjuru Nusantara untuk membantu rakyat pribumi yang pada masa itu kesulitan mengenyam bangku pendidikan. Karena jasa beliau inilah Ki Hadjar Dewantara diberi gelar sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.

Wah ternyata sejarah sekolah di Indonesia memiliki cerita yang sangat panjang ya teman-teman. Sekarang kita sudah mengetahui asal usul sekolah di Indonesia, semoga dengan cerita ini teman Kreasa semakin semangat menutut ilmunya.

Sampai jumpa di materi berikutnya 🙂

SHARE IT

You May Also Like

Julukan Kota di Indonesia

Julukan Kota di Indonesia

kreasa.id - Berdasarkan Kepmendagri 050-145 Tahun 2022, bahwa jumlah wilayah administrasi pemerintahan dan pulau di seluruh Indonesia sebanyak 34 Provinsi, 416 Kabupaten, 98 Kota, 7.266 Kecamatan, 8.506 Kelurahan, 74.961 Desa dan 16.772 Pulau. Sehingga sesuai...

Gelombang Bunyi

Gelombang Bunyi

kreasa.id - Hai teman Kreasa, tahukah kamu bahwa suara yang kita dengar berasal dari sebuah gelombang? Ya, suara yang terdengar oleh telinga kita merupakan hasil daripada gelombang bunyi. Apa itu definisi bunyi? Bunyi adalah hasil dari getaran yang merambat di udara...

Pesawat Sederhana

Pesawat Sederhana

kreasa.id - Hai teman Kreasa, siapa yang peranh mendengar pesawat sederhana? apa yang teman-teman bayangkan? Pesawat ini bukanlah pesawat terbang ya, melainkan benda yang berhubungan dengan alat bantu manusia. Secara definisi, dikutip dari Kemendikbud, Pesawat...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *